Selasa, 07 Februari 2012

REPUTASI PERGURUAN TINGGI MENGHADAPI DAYA SAING

Oleh : Anang Joko Purwanto *)

Di Indonesia masalah daya saing perguruan tinggi terutama perguruan tinggi swasta merupakan masalah menarik dan dipandang perlu untuk dikaji mengingat dampaknya yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat ke depan. Pendidikan tinggi merupakan salah satu pilar penting yang diharapkan dapat membawa perubahan suatu bangsa. Dunia pendidikan tinggi tidak hanya dapat menjadi sarana bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi proses pembelajaran di kampus juga diharapkan dapat menjadi wahana yang penting untuk merubah pola pikir masyarakat dalam menuju terwujudnya masyarakat sipil (civil society).
Sebuah kampus memiliki potensi luar biasa, melakukan kerjasama dengan pihak lain. Perguruan tinggi dapat menarik perusahaan lain guna meningkatkan kemudahan bagi mahasiswa seperti perusahaan bank, pos giro, biro perjalanan usaha kantin, dan sebagainya. Dalam perguruan tinggi, co-branding merupakan perwujudan kerjasama yang dilaksanakan antara perguruan tinggi dengan pihak eksternalnya, seperti pemerintah, perguruan tinggi lainnya (baik dalam maupun luar negeri), perusahaan-perusahaan terkait, masyarakat, lembaga-lembaga dan tokoh masyarakat, serta lainnya. Atmosfir dan suasana perguruan tinggi yang nyaman, asri, sejuk dan kondusif menjadi salah satu daya tarik pancaindera mahasiswa untuk memilih untuk kuliah di perguruan tinggi tersebut. Begitu pula ketersediaan suatu web sites merupakan salah satu indikator keunggulan dalam pola daya saing. Oleh karenanya penggunaan experiential moduls, yang meliputi sense, fell, think, act dan relate dalam penggarapan website sangat perlu diperhatikan. Semakin menarik desain dan content akan memberikan pengalaman baru bagi penggunanya terutama dalam citra atau reputasi perguruan tinggi tersebut.
Citra atau reputasi perguruan tinggi sebagai salah satu faktor dalam meningkatkan daya saing merupakan salah satu elemen kunci intangible resources yang akan menjadi sumber dari penciptaan kondisi keunggulan daya saing berkelanjutan (sustainable competitive advantage) suatu perusahaan. Citra atau reputasi tersebut diperoleh melalui serangkaian kemampuan dan pengalaman yang terakumulasi sehingga perguruan tinggi tersebut memiliki kinerja terbaik bagi stake holder. Citra atau reputasi menurut Larkin (2003) dalam Suta (2006:19) menyatakan persepsi terhadap karateristik, kinerja dan perilaku perusahaan, maka dapat dikonstruksikan faktor-faktor pembentuk reputasi perusahaan yang bersumber dari persepsi tersebut yaitu : 1). pucuk pimpinan perusahaan/ siapa pemimpinnya (CEO), 2). tata kelola perusahaan/ bagaimana keputusan diambil (corporate governance), 3). tanggung jawab sosial/ karateristik (social responsibilities), dan 4). ukuran-ukuran akuntansi tidak berpengaruh secara signifikan/ kinerja (accounting measures).
   Keberadaan manusia sebagai sumber daya manusia adalah sangat penting dalam perwujudan citra perguruan tinggi karena sumber daya manusia menunjang melalui karya, bakat, kreatifitas, dorongan dan peran nyata. Tanpa adanya unsur manusia dalam perguruan tinggi, tidak mungkin perguruan tinggi tersebut dapat bergerak dan menuju yang diinginkan. Pengukuran MSDM penting dilakukan dalam perguruan tinggi,  hal ini bisa dilakukan salah satunya adalah pendekatan yang sistematik untuk menilai kinerja organisasi (PT) menjadi kerangka kerja yang terpadu.
Faktor kunci yang menentukan kualitas pendidikan dalam meningkatkan reputasi perguruan tinggi adalah faktor kepemimpinan. Keefektifan pola kepemimpinan, mulai dari tingkat universitas sampai kepada jurusan/program studi sangat menentukan keefektifan sebuah perguruan tingi. Kepemimpinan dalam konteks perguruan tinggi adalah kepemimpinan akademik yaitu kemampuan seseorang untuk memahami dan memberdayakan kekuatan universitas dalam pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Tanpa kemampuan ini proses perbaikan berkesinambungan sebagai salah satu pilar peningkatan kualitas pendidikan akan sangat sulit dicapai.
Selain itu, kepemimpinan pendidikan yang diperlukan saat ini adalah kepemimpinan yang didasarkan pada jati diri kepribadian bangsa yang hakiki, yang bersumber dari nilai budaya dan agama, dan mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan tinggi khususnya, dan umumnya atas kemajuan-kemajuan yang diraih di luar organisasi. Berdasarkan pada berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan, baik perubahan dalam manajemen maupun perubahan metodologi yang diarahkan bagi pembelajaran efektif, saat ini perlu dikembangkan kepemimpinan bervisi yang dapat mengakomodir kebutuhan dan tuntutan pendidikan akan pemberdayaan dan kemandirian. Kelangsungan suatu satuan pendidikan tergantung pada sumber daya yang dimiliki dan strategi apa yang dipilih dalam memberdayakan sumber daya internal itu untuk merespon ancaman dan peluang eksternal. Apabila suatu pendidikan dapat mencocokkan sumber daya internalnya dengan peluang lingkungan eksternalnya maka pendidikan tersebut telah mencapai kelayakan strategi, pemanfaatan potensi yang ada sehingga daya saing perguruan tinggi akan semakin relevan dalam meraih keunggulan daya saing.
Menghadapi tantangan yang sangat berat dan tingkat daya saing yang makin tinggi, terutama bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) perlu untuk mempersiapkan pemimpin yang mempunyai integritas kepribadian yang dapat menjadi teladan, pro aktif dalam mengantisipasi lingkungan eksternal yang sangat dinamis dan menggerakkan seluruh potensi resources yang dimiliki baik yang bersifat tangible, maupun intangible melalui pembentukan brand image yang dapat menjamin bagi terbangunnya kepercayaan dan loyalitas pelanggan. Jika kondisi itu bisa dicapai maka outcome-nya berupa kesehatan keuangan PTS dapat terus dipelihara, sehingga dengan demikian PTS dapat melakukan investasi yang diperlukan bagi pengembangan akademik.
Dari perspektif teknologi organisasi, satuan pendidikan setingkat perguruan tinggi merupakan organisasi dan entitas budaya yang mengkombinasi unsur-unsur informasi, peralatan, teknik, proses, metode, nilai-nilai bersama, untuk mengubah masukan menjadi keluaran organisasi. Perguruan tinggi sebagai entitas budaya secara konseptual sebagai organisasi yang memiliki bagian-bagian penting yang berupa individu dan kepribadian orang-orang dalam organisasi, struktur formal, pola interaksi informal, pola status dan peranan yang menimbulkan pengharapan-pengharapan, dan lingkungan fisik pekerjaan. Oleh karena itu pengembangan perguruan tinggi diarahkan kepada penguatan kapasitas organisasi yang adaptif yang bercirikan kelompok manajemen menilai tinggi berbagai aktor dalam organisasi, inisiatif dan kepemimpinan benar-benar dihargai dan didorong di setiap jenjang organisasi.
Pada tahun-tahun mendatang, perguruan tinggi Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan besar yang perlu di respons dengan strategis. Globalisasi ekonomi dan revolusi teknologi informasi adalah dua kekuatan besar yang sangat mempengaruhi dunia perguruan tinggi Indonesia. Jika perguruan tinggi tidak mampu mengantisipasi tantangan globalisasi dengan memadai, diperkirakan lembaga tersebut tidak mampu mempertahankan eksistensinya. Oleh karena itu diperlukan bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk terus meningkatkan kekuatan daya saingnya agar tetap mampu bertahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar